Rabu, 26 Mei 2021

3.1.a.8.1. Blog Rangkuman Koneksi Antar materi (Diklat CGP)

 

1.        Bagaimana pandangan Ki Hajar Dewantara dengan filosofi Pratap Triloka memiliki pengaruh terhadap bagaimana sebuah pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran diambil?

Ada 3 Prinsip Dasar Kepemimpinan menurut Ki Hajar Dewantara dengan filosofi Pratap Triloka yaitu : 1] Ing ngarsa sung tulada, Artinya, di depan memberi teladan. Pemimpin harus menjadi contoh atau teladan bagi anak buahnya atau bawahannya. Dalam hal ini guru sebagai pemimpin dalam pembelajran berarti harus memberikan contoh atau teladan bagi peserta didik. Tingkah laku dan tindakan akan dilihat dan ditiru oleh siswanya, maka disinilah peranan guru harus memberikan keteladanan yanng baik. , 2) Ing madya mangun karsa, artinya di tengah membangun kehendak atau niat. Pemimpin harus berjuang bersama anak buah. Berarti dalam hal ini guru harus bersama-sama berjuang untuk melaksanakan pembelajaran dengan membakar semangat dan motivasi agar siswa jangan putus asa dan terus berjuang demi cita-citanya yang akan diraihnya dan 3)Tut wuri handayani, artinya, dari belakang memberikan dorongan. Hal ini tentu saja saat guru sebagai pemimpin dalam pembelajaran maka ada saatnya siswa  dengan keunikannya sendiri dengan potensi yang dimilikinya maka guru diharapkan bisa mendorong siswa-siswanya untuk selalu mengembangkan potensinya dan melakukan segala kegiatannya yang baik sehingga posisi guru mendorong, dan memberikan fasilitas jika dibutuhkan. ada saatnya pemimpin membiarkan anak buah melakukan sendiri dalam hal ini guru membiarkan siswanya untuk berkembang sendiri dan guru mendorongnya. Ketiga prinsip tersebut, ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani, perlu dilakukan oleh guru sebagai pemimpin pembelajaran sesuai dengan tingkat kepentingan dan kebutuhan. Ada saatnya memberikan contoh didepan, ada saatnya bersama-sama berjuang dan memberikan motivasi , dan ada saatnya hanya mendorong untuk kemajuan anak didiknya. Ketiganya diperlukan wawasan dan pengambilan keputusan yang tepat oleh seorang guru kapan dirinya sebagai contoh yang baik, kapan akan membakar semangat siswanya dan kapan hanya mendorong, Tentu saja hal ini dibutuhkan pemahakan seorang guru dalam mengambil keputusan tersebut sebagai pemimpin dalam pembelajaran dan berarti guru butuh pengetahuan dan pemhaman pengambilan keputusan dalam pembelajaran agar  tidak salah dalam mengambil keputusan. Karena siswa pada dasarnya akan meniru apa yang dilakukan dan mengikuti mindset  gurunya.

 

2.             Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?

Dalam mengambil suatu keputusan, seseorang akan dipengaruhi mindset atau cara berfikirnya dan pemahamannya terhadap sesuatu. Seseorang akan bertindak sesuai dengan apa yang tertanam dalam pikirannya termasuk ketika mengambil keputusan. Pada saat mengampil keputusan seseorang akan menggunakan akalnya untuk berfikir dan juga akan berkaitan dengan etika dan moral. Etika dan moral merupakan dimensi yang tak terpisahkan. Etika dan moral mengacu kepada ajaran atau gambaran tentang perbuatan, tingkah laku, sifat dan perangai yang baik. Etika dan moral erat kaitannya dengan penilaian. Karena pada hakikatnya etika membicarakan sifat manusia sehingga seseorang bisa dikatakan baik, bijak, jahat, susila atau sebagainya. Secara khusus etika ada pada prinsip manusia sebagai subjek sekaligus objek, bagaimana manusia berperilaku atas tujuan untuk dirinya sendiri dan tujuan untuk kepentingan bersama. Dengan demikian Nilai-nilai yang tertanam dalam diri seseorang akan berkaitan dengan apa yang menjadi mindset dalam berfikirnya. Nilai-nilai yang mendasari pemikiran seseorang adalah: 1) melakukan demi kepentingan orang banyak, 2) menjunjung tinggi prinsip-prinsip dalam diri, 3) melakukan apa yang kita harapkan orang lain akan melakukan pada diri kita. Nilai-nilai tersebut sesuai dengan prinsip-prinsip yang kita gunakan dalam menentukan suatu keputusan yaitu : 1) berpikir berbasis hasil akhir , 2) berpikir berbasis peraturan, dan 3) berpikir berbasis rasa peduli

 

3.        Bagaimana kegiatan terbimbing yang kita lakukan pada materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil. Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut. Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi ‘coaching’ yang telah dibahas pada modul 2 sebelumnya.

 

Kegiatan coaching melalui metode coaching dengan model TIRTA dapat dikoalaborasikan dengan 4 paradigma, 3 prinsip dan 9 langkah pengambilan dan pengujian dalam mengambil keputusan berbagai dilema etika yang terjadi baik disekolah khususnya dalam pembelajaran maupun dalam lingkungan sekitar kita. Coaching dan teknik pengambilan keputusan yang sudah dipelajari sangat sejalan dengan tugas guru sebagai pemimpin pembelajaran dikelas. Sehingga selayaknya guru melakukan coaching dan teknik pengambilan keputusan tersebut agar pembelajaran dapat efektif dan hasilnya optimal.

 

4.             Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik?

Pengambilan keputusan pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik, Jika nilai-nilai yang dianut baik dengan karakter yang baik maka pada saat pengambilan keputusan nya pun akan baik. Karena nilai-nilai yang dianut seseorang akan tergantung kepada pemahaman dan karakter yang dimiliki oleh pengambilan keputusan. Sebagai pemimpin pembelajaran dalam pengambilan keputusan tetap harus mengikuti kepada 4 paradigma, 3 prinsip dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan kemudian sehingga hasil keputusan yang diambil akan mendekati tingkat pencapaian yang tepat.  Sehingga keputusan yang diambil akan membawa efek baik secara langsung maupun secara tidak langsung terhadap pendidik tersebut.

5.        Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.

Untuk menghasilkan keputusan yang tepat kita perlu menerapkan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan dalam permasalahan yang dihadapi diantaranya adalah:

a.              Mengenali bahwa Adakah nilai-nilai yang saling bertentangan dalam situasi Dilema etika

b.              Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi tersebut

c.              kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi tersebut

d.              Lakukan pengujian benar atau salah yang meliputi uji legal. uji regulasi / standar profesional. uji intuisi. uji halaman depan koran. dan uji panutan atau idola

e.              Pengujian paradigma benar lawan benar

f.               melakukan prinsip resolusi

g.              investigasi opsi trilemma

h.              buat keputusan dan

i.                lihat lagi keputusan dan refleksikan.

    jika kita melakukan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan di atas tentu akan menghasilkan keputusan yang tepat dan efektif dan dapat dipertanggungjawabkan keputusan yang didasarkan pada nilai-nilai kebajikan yang berasal dan berpihak pada murid keputusan tersebut akan menjadikan pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.

 

6.   Selanjutnya, apakah kesulitan-kesulitan di lingkungan Anda yang sulit dilaksanakan untuk menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Apakah ini kembali ke masalah perubahan paradigma di lingkungan Anda?

Kesulitan-kesulitan dilingkungan Saya untuk menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus etika yaitu biasanya karena adanya perbedaan sudut pandang dari masing-masing. Perbedaan pendapat ini sebaiknya dapat dimusyawarahkan sehingga mencapai satu persamaan persepsi dalam satu kasus. Karena perbedaan latar belakang pendidikan, budaya tentunya sudah pasti akan berbeda juga cara pandang seseorang dalam mengambil keputusan, disinilah letaknya perbedaan ini, tetapi perbedaan ini jangan menjadi akar permasalahan baru, justru disinilah perlunya diskusi  atau musyawarah dalam melihat sesuatu yang berbeda.  

 

7.    Dan pada akhirnya, apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita?

Dengan melakukan pengambilan keputusan yang tepat semakin meletakkan kepentingan murid sebagai tujuan utama seiring dengan Filosofi pendidikan dari Ki Hajar Dewantara menuntun potensi yang ada pada murid sehingga tercipta Merdeka belajar dan bermanfaat salah satunya itu bagi dirinya dan masyarakat.

8.      Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?

Seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan tentu akan berpengaruh pada masa depan murid-muridnya.  Keputusan yang berpihak pada murid akan menemukan dan mengembangkan potensi murid-murid dan tentunya akan menjadi bekal murid dalam mengembangakn dirinya dimasa depan sehingga akan bermanfaatlah potensinya itu bagi dirinya dan masyarakat disekitarnya.

9.      Apakah kesimpulan akhir  yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?

Kesimpulan akhir dari pembelajaran modul materi pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran bahwa pemimpin pembelajaran harus mampu mengambil keputusan dengan tepat sehingga dapat memaksimalkan serta berpihak kepada murid. Dengan melakukan pengambilan keputusan yang tepat meletakkan kepentingan murid sebagai tujuan utama seiring dengan Filosofi pendidikan dari Ki Hajar Dewantara menuntun potensi yang ada pada siswa. Keputusan yang diambil juga hendaknya sesuai dengan tujuan kita untuk mengutamakan keberpihakan kepada murid dengan menjadi teladan, motivasi dan dukungan bagi murid-muridnya. Melalui nilai dan peran guru penggerak maka diharapkan pengambilan keputusan dapat dilakukan dengan kesadaran penuh,  dan melalui tekhnik coaching kepada murid, serta mengembangkan Kompetensi sosial emosional diharapkan terciptalah merdeka belajar bagi murid dan guru sebagai pemimpin pembelajaran.

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar