Rabu, 18 November 2020

 

                    Audisi  Lomba Menyanyi

                                               By : Qonita Nur Azizah

 “Kukkuruyukkkkkkk ...,” suara kicauan ayam berbunyi tanda matahari sudah terbit. Aku pun segera mandi, shalat Subuh dan siap-siap untuk berangkat mencari uang.

Oh ya, kenalkan namaku Aditya Saputra, panggil saja Adit. Aku lahir dalam keluarga yang kurang berkecukupan. Bapakku sudah meninggal 5 tahun yang lalu sedangkan ibuku sedang sakit–sakitan. Aku bekerja sebagai pelayan di salah satu sebuah restoran yang biasanya digaji Rp500.000 per bulan. Restoran tempat kerjaku bernama ‘GOOD RESTO’ yang berada di Jln. Mawar No. 5 Jakarta Selatan sedangkan rumahku berada di salah satu sudut yang terpencil di Jakarta Selatan yang hanya dihuni oleh masyarakat yang kurang mampu. Jika aku sekolah, berarti sekarang aku duduk di kelas 2 SMP atau kelas 8. Kulitku putih kecoklatan. Alis, bulu mata dan rambutku tebal, biasanya rambut aku tata menyamping ke kanan.

          Setelah mandi dan shalat Subuh aku pun berdo’a, “ Robbighfirli waliwa lidayya warhamhuma kama robbayaaniy soghiroo". Ya Allah, Ya Rohman, Ya Rohim, ampunilah dosa-dosa hamba dan dosa-dosa kedua orang tua hamba. ya Allah sembukanlah penyakit ibuku. Ya Allah berilah hamba rezeki yang lebih banyak dan halal. Ya Allah berilah hamba kekuatan dalam menjalani ujianmu dan janganlah Engkau mengambil ibuku terlebih dahulu sebelum aku membahagiakannya Ya Allah. "Robbana aatina fiddunnyah hasanah wafil aakhiroti hasanah wakiyna adzab bannar…Aminn…aminnn, ya robbal alamin…” Kataku sambil mengusap pipiku yang sudah dibanjiri oleh derasan air mataku. Tanpa aku ketahui, ibu sudah berada di balik pintu sambil menangis karna mendengar doaku, ya doa dari anak semata wayangnya. “ Adit…” ibu memanggilku dengan lembut. “Eh, ibu, ibu pasti laper yah bu, aku buatin sarapan yah bu…” tanyaku setengah kaget. “Eh … enggak kok nak, ibu enggak laper.” Kata ibu berbohong. “Adit, kamu enggak boleh nangis, kan kamu udah besar masa nangis kayak anak kecil aja..” ibu berusaha menghiburku. “Iya bu, aku enggak nangis kok…kan aku udah besar” kataku berusaha tegar di hadapan ibu padahal hatiku hampir ingin menyerah. “Yaudah Ibu sarapan dulu yah, kan Ibu belum sarapan …” kataku lagi kemudian dijawab sebuah anggukan dari ibu dan aku pun menuju ke dapur untuk memasak.

Sesampainya di dapur aku pun memasak telur dadar dan semur tahu. Aku menyiapkan bahan-bahan seadanya saja yang terdapat di dapurku yaitu: 3 buah telur, garam secukupnya, 3 buah tahu, kecap, 2 buah cabe, 2 siung bawang merah dan 2 siung bawang putih.

 Setelah selesai memasak untuk sarapan dan makan siang, aku pun mengambil  sebagian lauk pauk ke piring dan menuangkan air putih ke dalam 2 gelas, kemudian menuju kamarku di mana ada ibu yang sedang menungguku. Sesampainya di dalam kamar aku pun menyuapi ibuku sarapan dan sesekali aku ikut sarapan.

Setelah selesai sarapan ibu berkata “Kamu harus percaya Dit, kalau ibu enggak akan pernah ninggalin kamu walaupun ibu sudah tiada kamu selalu ada di hati ibu, ingat itu Dit, jadi kamu enggak perlu takut yah…” katanya menahan tangis. “Iya bu, aku percaya kok…tapi ibu harus kuat yah…” Kataku kepada ibu sambil mengelus punggungnya. “Iya nak, yaudah kamu kerja gih nanti telat, yang jujur yah kalau kerja…” Kata ibu mengingatkan. “Yaudah bu aku kerja dulu yah, ibu istirahat aja yah… jangan mulung yah bu, aku berangkat dulu Assalammualaikum. Oh ya bu, nanti kalau mau makan siang udah aku taro di atas meja belajarku.” Kataku mengingatkan sambil mengambil tas punggungku yang ada di meja belajar dan mencium punggung tangannya. “Iya..nak waalaikum salam hati- hati di jalan yah.”

Dalam perjalan aku diberi sebuah kertas brosur yang berisi audisi lomba menyanyi yang hadiahnya piala, piagam, dan uang tunai sebesar Rp10.000.000,00. “Wah…aku ikut ah, lumayan kalau menang bisa untuk berobat ibu…tapi aku belajar nyanyi sama siapa yah?” tanyaku kepada diri sendiri. “Sama saya aja dek” tawar seorang ibu yang berada persis di sampingku. “Eh…enggak usah deh bu makasih…” kataku kaget.   “Udah…enggak papa dek… kenalkan nama saya Avidati Aulia Putri, panggil aja Bu Vivi…yah, mau yah.. diajarin sama ibu! Tanpa dibayar deh…” Katanya ikhlas. Ibu Vivi tersebut kira-kira berumur 32 tahunan. Ia memakai kerudung berwarna biru muda yang diberi bros berbentuk bunga, memakai kaos polos berlengan panjang warnanya biru muda dengan dihiasi pita dibagian pergelangan tangan. Bu Vivi juga memakai rok celana berwarna biru tua, bu Vivi memakai sandal Heels setinggi 3 cm berwarna biru muda. Bu Vivi mempunyai lesung pipi, wajahnya diberi sedikit bedak dan sedikit olesan lipstik karna wajah bu Vivi memang sudah putih. “Kan kamu mau bantu berobat ibu kamu dek, jadi ibu bantuin deh … jadi guru privat nyanyi kamu tanpa dibayar, ibu ikhlas kok… masa ibu enggak boleh bantu kamu?” katanya lagi. “ Hmmm… boleh deh bu, yang penting ibu enggak ngerasa kerepotan.” jawabku.   “ Ya, enggak ngerepotin lah dek, kalau ngerepotin yah ibu enggak bakal nawarin jadi guru privat nyanyi kamu tanpa dibayar lagi, jadi ibu mau kok jadi guru privat nyanyi kamu dengan senang hati…” katanya sambil menahan tawa. “Iya juga, yah bu…hehehe…”Kataku. “Yaudah boleh deh bu… makasih yah bu…” Jawabku lagi. “Ohiya dek nama kamu siapa yah?” Tanya bu Vivi kepadaku. “Nama saya Aditya Saputra bu.” Jawabku. “Oh, namanya Adit…ibu boleh minta Nomer kamu gak yang bisa dihubungi?” Tanyanya lagi. “Oh, boleh kok bu, nomernya  0857 9980 3575, emangnya mau latihan jam berapa yah bu? Soalnya saya mau kerja dulu bu sampai jam 14.00 WIB.” Kataku menjelaskan. “ Hah..Adit kamu kerja? Dimana nak? Bukannya harusnya sekarang kamu sekolah, kok kerja?” Tanya bu Vivi kaget beserta heran. “ Hmm… saya udah enggak sekolah bu…iya, bu saya kerja… saya kerja di Good Resto bu.” Kataku menjelaskan. “ Duh, nak kasihan sekali kamu… ibu turut prihatin yah… Semoga nanti setelah kamu ikut lomba menyanyi hidup kamu berubah, bisa sekolah lagi seperti anak – anak yang lain, dan ibu kamu bisa cepat sembuh.” Kata bu Vivi mendoakan. “ Aminn bu, semoga saja… yaudah bu saya berangkat dulu ya bu.” Kataku pamit ke bu Vivi. “Eh, iya nak nanti ibu samper kamu di Good Resto yah, hati – hati ya nak.” Kata bu Vivi mengingatkan. “ Iya bu, saya berangkat dulu yah bu, Assalammualaikum” Kataku lagi. “Waalaikum salam.” Jawab bu Vivi.

Sesampainya di tempat kerjaku, Good Resto, aku pun menaruh tas punggungku ke dalam lokerku. Di tempat kerjaku disediakan loker untuk para karyawan yang lain termasuk aku. Sekarang jam 07.30 waktunya aku bertugas di bagian pelayan sampai jam 10.30.  Pelanggan pertama yaitu seorang ibu – ibu yang memesan 70 macam makanan ringan yang sudah dibungkus, 70 makanan berat, 70 macam jus, yang akan dipakai nanti jam 09.00 untuk Reuni sekolahnya, dan aku pun memberikan kertas yang berisi pesanan ibu tersebut ke mbak Tiara. Mbak Tiara merupakan koki andalannya Good Resto. Setelah selesai menjadi pelayan aku pun megerjakan tugas yang ke-2 yaitu membersihkan halaman Good Resto, sambil membersihkan halaman Good Resto memakai sapu lidi aku mengobrol dengan Kak Andi. Kak Andi adalah teman dekatku di kerja, aku dan kak Andi hanya beda kurang lebih 3 tahun. “Kak, kakak kok enggak berangkat sekolah ?” Tanyaku heran. “Iya, soalnya di sekolah kakak lagi ada UTBK jadi, untuk siswa kelas 10 dan 11 diliburkan selama SBMPTN berlangsung.” Jawab kak Andi. “ Oh, gitu yah, kak, terus kakak dikasih tugas gak ?” Tanyaku lagi. “ Di kasih kok Dit, mau minjem enggak ?” Tanya kak Andi kepadaku. “ Hmm…boleh deh, kak.” Jawabku. “Yaudah bentar yah, kakak ambil dulu.” Katanya sambil mengambil buku yang terdapat di tas punggungnya yang berada di loker. Dan hanya butuh  3 menit kak andi sudah berada di depan ku dan memberikan buku tugasnya kepadaku. “ Pinjem dulu yah, kak.” Kataku meminta ijin. “Iya, nanti kembaliinnya sebelum jam makan siang yah.” Katanya megingatkan. “Oke, kak.” Kataku menurut. Selama aku udah berhenti sekolah aku slalu minta diajarin kak Andi untuk mengajariku walaupun bukan sesuai umurku tapi bagiku pelajarannya menyenangkan dan setiap kak Andi ada Tugas aku slalu menyalinnya untuk di kerjakan sendiri. Dan aku pun melanjutkan pekerjaanku.

Setelah selesai mengerjakan pekerjaanku yang ke-2 aku pun melanjutkan pekerjaanku yang ke-3 yaitu membersihkan toilet, gudang, dan mencuci piring tetapi sebelum itu aku Sholat Zuhur berjamaah terlebih dahulu dan makan siang. Setelah selesai Sholat Zuhur berjamaah aku pun menyalin buku tugas kak Andi ke bukuku. Setelah selesai aku pun makan siang bersama kak Andi. “ Nih, kak, udah selesai, makasih yah, kakak.” Kataku membuka topik obrolan dan memberikan buku tugasnya.   “ Oh, iya sama – sama dit” Katanya dan mengambil buku tugasnya dari tanganku. Makan siang hari ini yaitu Nasi goreng, Rendang, dan es jeruk.

Setelah selesai makan siang dan istirahat sampai jam 12.30 WIB aku pun melanjutkan pekerjaanku yang ke-3. Di Toilet aku hanya diberi 3 toilet untuk aku bersihkan karena toiletnya dibagi dengan karyawan yang lain juga. Dan setelah itu aku pun ke gudang bersama karyawan yang lainnya termasuk kak Andi. Di gudang aku diberi tugas untuk megepel lantai sedangkan kak Andi diberi tugas untuk mengangkat barang bersam karyawan yang lainnya juga. Setelah ngepel lantai aku pun ke ruang cuci disana merupakan tempat untuk mencuci piring, gelas, sendok dan semacamnya selain hanya mencuci itu di ruang cuci juga ada mesin cuci gunanya untuk mencuci, seperti Lap, kain, taplak meja dan lain – lainnya. Di ruang cuci aku mendapat 10 buah piring, 5 buah gelas beling, dan 15 buah sendok dan garpu. Setelah selesai mengerjakan tugas yang ke-3 aku pun megambil tasku yang ada di loker dan menuju ruangan pak Rangga untuk meminta ijin pulang karna tugasku hari ini sudah selesai. Pak Rangga yaitu pemilik restoran tempat kerjaku. “Permisi pak.” Kataku sesampainya di depan pintu ruangan pak Rangga. “ Masuk.” Jawabnya. “ Maaf pak, pekerjaan saya hari ini sudah selesai.” Kataku memberitahu. “ Oh, yaudah adit kamu boleh pulang, makasih yah.” Katanya mempersilahkan aku pulang. “ Iya pak, sama – sama, yaudah saya pulang dulu yah, pak Assalammualaikum.” Kataku pamit. “ Waalaikum salam.” Katanya dan aku pun langsung keluar dari ruangan pak Rangga dan menuju dimana para pembeli sedang menikmati makanan yang sedang dibelinya dan disana juga terdapat bu Vivi. “ Maaf bu, menunggu.” Kataku. “ Iya, enggak papa kok, enggak usah ngerasa bersalah gitu, nunggunya juga enggak lama – lama amat kok.” Katanya menahan tawa. “ Hehehe… yaudah yuk bu, tapi sebelum latihan kita ke rumah saya dulu yah bu, soalnya saya belum minta ijin ke ibu.” Kataku menjelaskan. “ Iya, enggak papa kok, yaudah yuk nanti ibu kamu nyariin lagi !” Kata bu Vivi yang menyuruhku cepat. “ Tapi kita ke rumahmunya makai kendaraan ibu aja yah.” Tawarnya. “ Eh, enggak usah deh bu, saya jalan kaki aja.” Tolakku. “ Udah, enggak papa, kalau misalnya kita jalan kaki, masa mobil ibu di tinggal.” Katanya dengan nada memohon. “ Iya juga ya bu, yaudah deh bu, makasih ya bu.” Kataku nyerah. “ Nah gitu dong, dit, yaudah yuk masuk !” Katanya menyuruhku dan aku pun menurutinya.

            Sesampainya di  rumahku aku pun memberi bu Vivi segelas Teh hangat manis. “ Silahkan bu diminum, maaf bisanya cuman nyuguhin Teh hangat manis.” Kataku mempersilahkan bu Vivi untuk meminum  Teh hangat manis buatanku. “ Iya, enggak papa, makasih loh.. udah disuguhin. Oh, ya ini dari ibu untuk ibumu dan kamu di terima  yah.” Katanya sambil memberikan 2 plastik kresek ukuran besar dan 1 plastik kresek ukuran kecil. “ Ini apa bu ?” Tanyaku ke bu Vivi.          “ Udah, terima aja dulu.” Perintahnya. “ Yaudah makasih yah bu.” Kataku berterima kasih yang dibalas dengan anggukan, aku pun menuju kamarku untuk menemui ibuku dan ternyata bu Vivi juga ingin menemuiku.

Di kamarku aku menemui ibuku sedang duduk dei tepi kasur dengan air mata yang bercucuran karena habis melihat foto kami sekeluarga yaitu aku, ibu, dan juga bapak yang sedang berada di Tangkuban Perahu, saat ibu melihatku ia langsung menghapus air matanya dengan punggung tangannya. “ Bu, udah ya bu, ibu harus ikhlasin bapak.” Kataku menenangkanibu. “ Iya nak.” Katanya sambil memelukku dan aku pun mengelusi punggungnya dengan tanganku. “ Bu, kenalin ini guru lesku yang akan mengajarkan aku menyanyi untuk lomba nanti namanya bu Vivi.” Kataku memperkenalkan bu Vivi kepada ibuku. “ Dan bu, kenalkan ini ibu kandung saya.” Kataku memperkanalkan ibuku kepada ibu Vivi. “ Ibunya Adit.” Kata ibu menjabat tangan kepada bu Vivi   yang hanya dibalas dengan sebuah senyuman dari bu Vivi. “ Makasih ya bu.” Kata ibu ke bu Vivi.  “ Iya sama – sama bu.” Jawab bu Vivi. “ Yaudah bu,  Dit, dimakan dong yang ada di dalam kresek.” Kata bu Vivi sambil menunjuk ke arah plastik kresek yang aku pegang. “ Eh, iya bu.” Kataku sambil membuka plastik kresek yang aku pegang. Di plastik kresek pertama yang besar terdapat Ayam Goreng 6, Spagethi 2, Nasi Goreng spesial 4, dan Kentang Goreng 2, sedangkan isi plastik kresek besar yang kedua yaitu Susu Anlene  ukuran besar 3 buah, dan Susu Milo ukuran besar 3 buah, dan isi plastik kresek yang berukuran kecil yaitu terdapat Juz Alpukat 2 dan Juz Jambu 2. “ Masya Allah bu banyak sekali isinya.” Kata ibuku terharu saat pertama kali melihat isinya. “ Makasih ya bu, makasih ya Allah.” Kataku dan ibu bersamaan sambil sujud ke arah kiblat. “ Sama – sama bu, dit.” Jawab bu Vivi sambil mengelus punggung kami dengan penuh bahagia karena sudah berbagi kepadaku dan ibuku, dan kami pun memakan yang diberi bu Vivi dengan banyak terharu.

Setelah selesai makan aku pun dan bu Vivi menuju ruang tamu untuk latihan sedangkan ibu sedang istirahat di kamarku. “ Dit, ibu udah daftarin kamu, dan saat ibu lihat kamu harus menyanyikan 3 lagu.” Kata bu Vivi panjang lebar. “ Yaudah deh bu saya akan nyanyi 3 lagu yaitu Ayah kukirimkan do’a, Lagu Cinta Untuk mama, dan Terima kasih Guruku.” Jawabku. “ Yaudah kalau begitu kamu ikutin kata – kata ibu yah. Oooo Ooooo OoooOooo.” Perintahnya dan aku pun mengikuti perintahnya dan seterusnya.

             Dua hari pun berlalu sekarang aku beserta bu Vivi dan ibuku sedang ada di Gedung Audisi Lomba Menyanyi. Aku mendapatkan urutan ke 3. Urutan 1..... dan ke-2. “ Sekarang kita tampilkan Aditya Saputra yang akan menyanyikan lagu Ayah kukirimkan do’a, Lagu Cinta untuk mama dan Terima kasih Guruku. Silahkan Adit.” Kata pembawa MC memanggilku untuk ke panggung dan aku pun berjalan ke panggung dan menyanyikan yang tadi dibilang oleh MC. Setelah selesai menyanyi aku pun turun ke pangung untuk memeluk ibuku beserta bu Vivi dengan air mata yang membasahi pipiku. “ Bu, maafin Adit.” Kataku saat berpelukan dengan ibu. “ Iya nak.” Jawab ibu terharu. “ Bu, maafin Adit kalau udah ngeropitin ibu.” Kataku kepada bu Vivi. “ Iya, ibu maafin kok.” Jawab bu Vivi. Sekarang merupakan waktu dimana MC membacakan para pemenang Audisi lomba Menyanyi.  “ Juara ke-3 kita adalah............................... Sinta Dwi Putri yang menyanyikan lagu Indonesia Raya, Indonesia Jaya dan Terima kasih Sahabat. Yang mendapatkan Piagam, piala, beserta uang tunai sebesar Rp. 5.000.000. Silahkan Dek sinta untuk maju ke panggung.” Panggil petugas MC. “ Dan Juara ke-2 kita yaituuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu Slavina Syahnada Agustina yang telah menyanyikan lagu berjudul Anganku Anganmu, Persahabatan bagai kepompong, dan Album biru. Yang mendapatkan Piagam, Piala, Uang tunai sebesar Rp.8.000.000. Silahkan untuk dek Slavina maju ke panggung.” Panggil MC lagi. Yah, belum ada namaku kataku pasrah dalam hati. “ Dan Juara pertama kita yaitu...” Kata MC berhenti lama. “ Aditya Saputra yang telah menyanyikan lagu Ayah kukirimkan do’a, lagu cinta untuk mama, dan Terima kasih guruku. Yang mendapatkan Piagam, Piala, dan Uang tunai sebesar Rp.10.000.000.  Silahkan untuk dek Adit maju ke depan.” Kata Mbak MCnya senang, aku yang mendengar itu tak kalah senangnya. Saat maju ke panggung dalam hati aku terus berterima kasih pada Allah SWT. “ Terima kasih semuanya yang telah mensuport saya sampai saat ini terutama untuk ibu saya dan bu Vivi yang telah berkorban banyak untuk saya dan ibu saya.” Kataku saat sudah diberi Piagam, Piala, dan uang tunai untuk memberikan Ucapan sedikit. Dan setelah itu aku pun turun dari panggung dan langsung memeluk ibuku lagi dan bu Vivi. Terima kasih banyaku bu Vivi yang telah mau mengajarkan saya tanpa dibayar, aku enggak akan melupakan jasa – jasamu, Kataku dalam hati.

 

                                               

                                                                        Hai, perkenalkan namaku Qonita Nur Azizah. Aku lahir di Bogor, 8 Juli 2007. Sekolahku  sekarang di MTSN 1 Pekalongan kelas VII, setelah menyelesaikan sekolah dasar di SDIT Insan Mulia, Kajen Pekalongan.  Cita – citaku banyak, tapi dari dulu hingga sekarang aku ingin menjadi Hafidzoh, Dokter Bedah, dan Penulis. Hobbyku adalah menulis,  dan memasak. Aku merupakan anak pertama dari 3 bersaudara adikku Muhammad Zidan dan Muhammad Zubair Alzam. Impianku adalah membahagiakan Orang tuaku, Adik – adikku, pokoknya yang aku kenal dan keliling dunia.

Semoga kalian suka membacanya yah....

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                               

         

Tidak ada komentar:

Posting Komentar